4 Cara Mengatasi Anak Tantrum dan Penyebabnya

 

Menghadapi anak marah atau mengamuk dengan posisi sebagai seorang ibu baru jelas bukan perkara mudah. Apalagi jika anak masih tergolong balita. Dalam usia balita, anak belum bisa mengombinasikan antara penggunaan kata “aku” dengan “keinginan yang belum terpenuhi” sehingga terciptalah tantrum. Kali ini akan dibahas mengenai temper tantrum atau tantrum.

Pengertian dan Pemahaman Tantrum pada Anak

Menjengkelkan sekali ya, Ibu, ketika anak kita tiba-tiba mengamuk atau mengalami tantrum. Di saat kita sudah pusing dan lelah dengan urusan di luar rumah atau keluarga, anak seolah menambah beban pikiran dengan tingkah alami mereka. Akan tetapi, mungkin Ibu juga belum mengetahui pasti mengapa anak marah atau mengamuk. Tantrum pada anak merupakan kondisi di mana anak emosi yang meledak.

Biasanya tantrum akan disertai dengan tanda sikap anak yang menjadi keras kepala, menangis, bahkan menjerit dan berteriak, hingga sampai pada resistensi pada upaya penenangan diri atau bahkan kekerasan. Tantrum sudah dianggap umum terjadi pada balita dan hal ini merupakan sebuah perilaku bermasalah pada anak. Tetapi tenang saja, frekuensi dan intensitasnya akan cenderung menurun sejalan dengan pertumbuhan anak. Sisi baiknya, tantrum bahkan bisa dianggap sebagai pengukur kekuatan pengembangan karakter.

Ibu, sejujurnya tantrum bukan hanya bisa terjadi pada anak, tetapi juga pada wanita dewasa. Prinsipnya sama: membuat orang lain tak nyaman dan segera memenuhi keinginannya guna meredakan amarah mereka. Perbedaannya, wanita dewasa lebih memahami penggunaan konsep kata “aku” serta keinginan dirinya sehingga kode yang disampaikan cenderung lebih spesifik ke orang tertentu dan apa yang ingin disampaikan. Baca juga: Cara Mengatasi Kecemburuan Kakak Pada Adiknya

 

Mengapa Tantrum Bisa Terjadi?

Tantrum bukan suatu kondisi yang tiba-tiba muncul. Ada penyebab yang melatarbelakangi munculnya kondisi ini. Perhatikan, faktor keluarga dan pengasuhan juga bisa jadi sebabnya. Tantrum pada anak bisa terjadi atas dukungan beberapa hal berikut:

1. Orang tua terlalu fokus dan sibukkan hal lain di luar keluarga sehingga perhatian pada anak yang masih balita berkurang atau menjadi sangat minim. Hal ini sebenarnya membuat anak merasa kecewa dan karena belum bisa mengutarakannya dengan baik, mereka akan memendam kekecewaan tersebut hingga sampai pada suatu fase anak akhirnya tantrum untuk mendapatkan perhatian lebih tersebut.

2. Pernahkah Anda sebagai orang tua kerap menolak apa yang menjadi keinginan anak? Hati-hati, kebiasaan ini lama-kelamaan akan memicu timbulnya konflik antara Anda sebagai orang tua dan anak. Belum lagi jika kondisi ini ditambah dengan penyampaian menggunakan cara tidak tepat atau bahkan orang tua sampai marah kepada anak untuk alasan menolak keinginan mereka.

3. Jika ternyata anak Anda tipe pribadi yang relatif tidak berani melawan orang tua, mereka akan memendam sendiri perasaan marah, kesal, benci, atau ingin menangis karena selalu mematuhi perkataan orang tua yang mungkin tidak sejalan dengan kehendaknya. Tipe anak yang seperti ini juga harus diasuh secara hati-hati karena bisa jadi akan menjadi bom waktu bagi orang tuanya sendiri.

4. Apakah Anda termasuk orang tua yang mudah marah dan melampiaskannya secara nyata tanpa babibu? Coba ingat lagi seberapa sering Anda memperlihatkan amarah Anda di depan anak, bisa jadi penyebab tantrum anak itu sendiri sebenarnya refleksi dari apa yang dilakukan orang tuanya. Kalau sudah begini, Anda sendiri yang akan pusing mencari cara mengatasi anak tantrum.

 

Solusi untuk Mengatasi Anak Tantrum

Menyelesaikan perkara memang tak semudah mencegahnya. Akan tetapi bukan berarti hal ini tidak mungkin ditangani. Jika Anda memang benar-benar ingin menyelesaikan masalah anak tantrum, beberapa hal penyelesaian berikut akan membutuhkan kerendahan hati Anda sebagai orang tua, lebih tepatnya sebagai seorang Ibu. Baca juga: 5 Cara Menjadi Ayah yang Baik untuk Anak Perempuan Anda

1. Karena mencegah selalu lebih baik daripada mengobati, mulailah untuk terbuka kepada anak.

Bangun komunikasi yang baik dengan anak. Ajari mereka untuk bisa mengutarakan apa yang menjadi keinginannya. Tentu saja hal ini membutuhkan waktu yang relatif lama karena anak juga sedang belajar menganalisis sebenarnya apa yang ia inginkan. Sering melakukan pembicaraan dari hati ke hati tentu akan lebih mendekatkan ibu dan buah hati. Jangan hanya mengajak bicara anak ketika tantrumnya sedang kumat, usahakan bicara secara intens terutama ketika suasana hatinya sedang baik.

2. Sepanjang tidak membahayakan dirinya, jangan terlalu banyak melarang

Anda sebagai pribadi diri sendiri pun pasti tidak senang dengan orang yang terlalu banyak mengatur dan melarang Anda. Begitu pula dengan anak, yang memiliki rasa keingintahuan besar dan ingin mengeksplorasi semua hal. Sepanjang hal itu tidak membahayakan anak Anda, mengapa mereka harus dilarang? Orang tua yang terlalu protective sesungguhnya justru tidak sepenuhnya mengamankan anak mereka karena semakin anak dilarang, semakin besar rasa ingin tahunya. Yang dikhawatirkan adalah ketika anak akhirnya mengambil jalan belakang untuk mencari tahu apa yang membuatnya penasaran.

3. Mengalihkan perhatian anak

Tidak memberikan perhatian pada kemarahan yang ia perlihatkan dan mengalihkannya pada hal lain merupakan cara untuk meredakan tantrum sekaligus media pembelajaran bagi para orang tua untuk mengetahui apa yang menjadi kesukaan dan minat anak. Ajak anak ke tempat yang lebih sepi untuk meredakan tantrum mereka juga salah satu alternatif efektif. Biarkan mereka meluapkan kemarahan mereka tanpa harus mengganggu orang lain atau mungkin merusak barang di sekitarnya.

4. Menuruti apapun keinginan anak saat tantrum bukan solusi bijak

Banyak orang tua yang akhirnya tidak tega pada anak yang sedang tantrum dan akhirnya menuruti semua keinginannya. Padahal langkah yang benar justru mendiamkannya hingga ia lelah dan tantrumnya sudah selesai. Anak harus diajari komunikasi yang baik untuk menyampaikan apa yang menjadi keinginannya namun bukan dengan cara marah. Ketika anak mengalami tantrum, kuncinya adalah biarkan saja ia meluapkan energinya dengan marah hingga habis. Pada saat tantrum, suasana hatinya sedang tidak baik dan ia sedang berusaha ‘meyakinkan’ orang lain bahwa apa yang dirasakannya begitu menyebalkan. Biarkan anak meredakan sendiri amarahnya dan berikan pengertian ketika suasana hatinya sudah menjadi lebih baik.

Itulah beberapa cara mengatasi anak tantrum beserta pengertian dan penyebabnya. Semoga dapat memberikan pencerahan kepada para Ibu agar lebih baik dan lebih mampu mendidik anak-anak.

Leave a Reply